Jumat, 22 November 2013

Bab Pendahuluan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.             Latar Belakang
Masalah transportasi di Jakarta merupakan masalah yang sangat kompleks terutama kemacetan. Masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya busway. Busway memberikan jalur alternatif bagi para penggunanya agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan tanpa harus mengalami kemacetan. Jalur busway saat ini berkembang menjadi beberapa koridor yang saling terhubung satu sama lain. Dengan banyaknya jalur busway saat ini banyak masyarakat yang kurang mengetahui jalur yang tepat untuk mencapai lokasi tujuan. Bahkan pengguna busway terkadang hanya mendapatkan informasi jalur dan bus melalui pegawai busway secara verbal dan kurangnya sosialisasi peta rute busway yang jelas dan mudah dimengerti pengguna busway membuat sarana transportasi ini tidak digunakan secara maksimal oleh masyarakat.
Kebutuhan masyarakat akan ponsel cerdas akhir-akhir ini makin besar. Berbagai merk dan harga yang terjangkau bisa kita dapatkan dengan mudah. Hal ini dapat digunakan sebagai terobosan baru dalam penyediaan informasi rute busway. Selain dapat menghemat waktu karena ponsel bersifat mobile yaitu mudah dibawa dan informasi yang diakses bisa lebih cepat juga tepat.

Kerangka Tulisan Ilmiah


Kerangka karangan
                Langkah terakhir pada tahap prapenulisan ialah pengorganisasian karangan. Dalam hal ini tujuan dan bahan penulisan turut menentukan bentuknya. Organisasi karangan pada umumnya mengikuti pola ilustratif, analitis atau argumentatif.
                Untuk menentukan organisasi itu, mula-mula kita menyusun suatu kerangka (outline) karangan. Menyusun kerangka berarti memecahkan topik ke dalam subtopik dan mungkin selanjutnya ke dalam sub-subtopiknya. Kerangka itu mungkin berbentuk kerangka topik atau kerangka kalimat. Sebelum menyusun kerangka kerja yang sebenarnya, kita dapat membuat kerangka kasar. Misalnya kita akan menulis karangan mengenai kegiatan sebuah universitas pada periode tertentu. Mula-mula anda memecahkan topik tersebut ke dalam suatu babakan besar.

Kamis, 07 November 2013

Sekilas tentang Borobudur

        Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

        Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia. Meskipun, Kenyataan pahit bahwa kini ia dihapuskan dalam salah satu dari keajaiaban dunia oleh UNESCO tidak akan mengurangi sedikitpun wibawanya. Borobudur tetap akan mempesona dan menjadi inspirasi berharga sepanjang zaman.


Sumber:
- http://pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=259
- http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur


Sabtu, 02 November 2013

Perkembangan Jumlah Provinsi di Indonesia



Wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa provinsi. Jumlah provinsi di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan penduduk, perubahan kemampuan ekonomi, faktor politik dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan Negara dan perubahan politik, ekonomi, maupun jumlah penduduk, maka jumlah provinsi yang ada di Indonesia mengalami penambahan. Penambahan jumlah provinsi ini buka berarti wilayah Indonesia bertambah luas. Wilayah provinsi yang sudah ada di Indonesia hanya 8, yaitu Provinsi Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Maluku. Pada saat itu, Pulau Irian belum menjadi bagian dari Negara Indonesia karena Pulau Irian masih dibawah kekuasaan Belanda. Seiring berjalannya waktu, setelah Indonesia merdeka jumlah privinsi di Indonesia mengalami perkembangan.

Setiap tahun provinsi di Indonesia selalu bertambah. Pada tahun 2002, jumlah provinsi di Indonesia bertambah menjadi 33. Provinsi yang mengalami pemekaran adalah Provinsi Riau menjadi Riau dan Kepulauan Riau. Luas daratan di Indonesia mencapai 1.9 juta km². Wilayah daratan yang luas ini terbagi menjadi beberapa provinsi. Letak wilayah Indonesia sangat strategis karena Indonesia diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, serta diapit oleh dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Pulau-pulau tersebut terbentang dari Sabang sampai Marauke dan berjumlah lebih dari 17.500 pulau. Tetapi tidak seluruh pulau tersebut berpenduduk. Sebuah Negara kepulauan berarti wilayahnya terdiri atas daratan dan lautan. Negara Indonesia terdiri atas beberapa wilayah provinsi dan setiap provinsi terdiri atas beberapa wilayah provinsi dan setiap provinsi terdiri atas beberapa wilayah kabupaten atau kota madya. Setiap wilayah kabupaten atau kota madya terdiri atas beberapa kecamatan. Kecamatan ini masih terbagi lagi menjadi beberapa kelurahan atau desa.

Kamis, 17 Oktober 2013

EYD

            Ejaan penting sekali artinya dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia. Dalam tulis-menulis orang tidak hanya dituntut untuk dapat menyusun kalimat dengan baik, memilih kata yang tepat, melainkan juga mengeja kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku. Dalam surat-surat pribadi dan kalimat catatan harian misalnya, ketaatan dalam EYD tidak mutlak. Dalam karangan ilmiah, dalam makalah dan dalam surat-surat perjanjian, kaidah ejaan harus betul-betul ditaati. Penulisan huruf kapital digunakan untuk mengawali kalimat yang baru. Di samping itu huruf kapital juga digunakan sebagai huruf awal pada nama diri. Ucapan langsung juga diawali dengan huruf kapital. Huruf tebal dan huruf miring untuk menulis nama lembaga, judul buku atau karangan kata-katanya harus diawali dengan huruf kapital. Kecuali yang berupa kata tugas. Berbeda dengan nama lembaga, judul buku atau nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal. Apabila ditulis dengan tangan kata-kata yang merupakan judul buku ini harus diberi garis bawah. Dalam menulis kata-kata sesuai dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan perlu diperhatikan penulisan kata atau partikel yang dirangkaikan dan yang tidak dirangkaikan. Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu adi- misalnya padan adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana.  Penulisan bilangan ada yang harus ditulis dengan angka, ada yang harus ditulis dengan huruf. Bilangan yang menunjukan tahun, jam, tanggal, nomor rumah, harus ditulis dengan angka. Begitu juga bilangan yang digunakan untuk memberi nomer bab, subbab, atau bagian-bagian dari subbab. Sedangkan yang terakhir adalah tanda baca. Ada bermacam-macam tanda baca, seperti titik(.), koma(,), titik koma(;), titik dua(:) dan kutip (“...”)

Sumber :
Wahyu, Tri.2006.Bahasa Indonesia. Jakarta:Gunadarma.

Selasa, 08 Oktober 2013

Tanda Baca

Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Antara lain, tanda titik digunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab. Koma digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara. Tanda titik dua dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian. Tanda petik dalam petikan langsung tidak dicetak dengan huruf miring, melainkan tetap dicetak dengan suatu majalah pun tanda petik itu tetap digunakan. Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang seperti meja-meja, berjalan-jalan, buah-buahan. Tanda hubungan digunakan apabila huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang dirangkaikan dengan huruf kapital.

Sumber :                               
Wahyu, Tri.2006. Bahasa Indonesia. Jakarta:Gunadarma.

Rabu, 02 Oktober 2013

Ragam bahasa

Ragam bahasa dibagi berdasarkan  media pengantarnya atau sarananya yaitu, ragam lisan bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah dan ragam lisan yang nonstandard, misalnya dalam percakapan antar teman, di pasar, atau dalam kesempatan non formal lainnya. Ragam tulis bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster. Berdasarkan situasi dan pemakaian ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat. Pembicaraan lisan dalam formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai.

Sumber :
Wahyu, Tri.2006.Bahasa Indonesia. Jakarta:Gunadarma.